banner 728x250

Nelayan Belo Laut Murka: Patok Batas Laut Dicabut Penambang, TI Apung Semakin Dekati Jetty Nelayan

Belo Laut, Bangka Barat — Suasana perairan Belo Laut kembali memanas. Kamis (6/11/2025), sejumlah nelayan Desa Belo Laut mendadak naik pitam setelah mendapati patok batas laut yang menandai garis zona Jetty nelayan, dicabut oleh para penambang timah apung ilegal. Tindakan itu dinilai sebagai bentuk pelecehan terang-terangan terhadap hak ruang hidup nelayan, sekaligus provokasi terbuka bagi warga pesisir yang selama ini mengandalkan laut sebagai dapur kandung mereka.

Pantauan lapangan, aktivitas tambang ilegal di Dusun 3 Desa Belo Laut telah berlangsung hampir satu bulan. Teguran dari aparat desa dan Kapolsek Muntok sudah diberikan berulang kali, namun tak diindahkan. Dalam tiga hari terakhir, TI apung bahkan semakin mendekati Jetty nelayan, hingga memicu ledakan emosi warga.

“Sudah tiga hari ini mereka (TI apung) kerja. Sekarang makin dekat,” ujar Jupri, nelayan Belo Laut, di depan Bhabinkamtibmas Desa Belo Laut, Aiptu Amra.

Aiptu Amra menyebut tindakan para penambang sudah kelewat batas dan persoalan ini akan disampaikan langsung kepada Kapolsek. “Mereka ini dikasih hati minta jantung. Aspirasi warga akan kami teruskan,” tegasnya kepada wartawan.

Tokoh masyarakat, Mang Totok, menegaskan bahwa warga tidak lagi ingin tarik-ulur. “Tutup 100 persen, kami setuju. Selama ini kami diam saja, tapi makin lama makin menjadi. Kemarin kerja arah talud, sekarang pindah ke sini. Mau ke mana lagi mereka? Arah laut pula!”

Dalam dokumentasi visual yang diterima redaksi, tampak jelas TI apung bergerak sangat dekat ke garis Jetty. Di bagian lain, sejumlah pohon mangrove perepat diameternya besar tampak mati, sebagian tumbang. Lanskap ini bukan lanskap ombak tenang ini lanskap “pabrik kecil” yang menggerus bumi dalam senyap.

Dari sudut yang lain, tampak nelayan berdiri di atas bibir tanah, memperhatikan ponton-ponton bekerja seperti makhluk asing yang muncul dari bawah kesadaran laut. Ini bukan lagi jarak aman. Ini sudah menyentuh garis hulu terdekat kehidupan pesisir.

Sejumlah warga menyebut para operator TI apung bukan warga Belo Laut. Mereka datang dari luar, tapi memakai nama “warga lokal” sebagai legitimasi moral untuk menambang. Metode ini telah sering terjadi di banyak titik Babel  operator harian berada di garis tembak, sementara pemodal tidak pernah tampil ke permukaan.

Mongabay Indonesia (2022) telah menuliskan pola tarik ulur ruang laut di Belo Laut: apa yang disebut sebagai “ruang ekonomi tak resmi di laut” perlahan-lahan mendorong nelayan menjadi minoritas di wilayah tempat mereka lahir. Tahun 2023, Mongabay kembali mencatat pola kartel timah di Babel yang menyusup ke zona-zona mangrove dan muara.

Tahun 2025 ini, pola lama muncul kembali hanya wajah operatornya yang berganti.

Cerita kerusakan lingkungan di Bangka Barat bukan sekadar cerita ekologis. Ia adalah kebangkrutan moral publik, ketika batas laut nelayan bisa dicabut begitu saja, kita harus bertanya: negara ini masih beroperasi untuk siapa?

Jika hukum tak mampu melindungi garis kayu yang ditancap nelayan di laut, bagaimana ia mau melindungi ratusan hektare akar mangrove yang jauh lebih sunyi dan tak bisa berteriak memanggil polisi?

hingga berita ini ditulis, TI apung masih bekerja. Mesin masih hidup. Suara mesin itu adalah bunyi garpu besi yang menggores lambung masa depan kita.

Daftar Literatur:
Mongabay Indonesia (2022) — “Konflik ruang pesisir dan tambang rakyat di Belo Laut, Bangka Barat”.

Mongabay Indonesia (2023) — “Timah Babel, benturan kepentingan, dan kerusakan mangrove di wilayah perkotaan dan desa pesisir”.

Catatan lapangan dan foto: Belo Laut, 6 November 2025 — observasi nelayan, pengurus desa, dan aparat setempat.Belva

Tinggalkan Balasan