banner 728x250

H.Yus Deraman Menunjukkan Wajah Kebijaksanaan Wakil Bupati yang Hadir Kampung Tanjung Mentok.

Infoombb,com.
Muntok, Bangka Barat — Kepemimpinan tidak selalu lahir dari ruang rapat, grafik anggaran, atau pidato panjang yang bergema di aula pemerintahan. Di Bangka Barat, kepemimpinan itu memilih lahir dari lorong-lorong sempit Kampung Tanjung tempat dapur warga menjadi penanda paling jujur tentang hadir atau tidaknya pemimpin. Senin (26/1/2026), Haji Yus Deraman, Wakil Bupati Bangka Barat, menempatkan dirinya di ruang itu: turun langsung, menyapa dan menyerahkan 120 paket sembako kepada warga kurang mampu dan lansia di RW 01, RW 02, RW 04 dan RW 07, bersama Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kampung Tanjung.

Bantuan itu bukan sekadar beras, gula, dan minyak goreng. Ia adalah bahasa kebijakan cara seorang pemimpin berbicara kepada rakyatnya tanpa perlu slogan. Dalam balutan plastik merah yang berpindah tangan, Yus Deraman mengirimkan pesan yang tegas namun sunyi bahwa kekuasaan yang bermakna adalah kekuasaan yang hadir secara nyata.

Yus Deraman tidak berdiri di atas panggung. Ia berdiri sejajar dengan warga. Menunduk. Menyalami. Menatap mata mereka yang selama ini hidup dalam sunyi kebijakan. Gestur itu sederhana, tetapi sarat makna simbolik sebuah citra kepemimpinan yang sengaja dibangun tidak berjarak, tidak elitis dan tidak merasa lebih tinggi dari rakyatnya.

“Gerakan LPM Kampung Tanjung seperti ini harus terus didukung. Pemerintah daerah tidak boleh bekerja dari kejauhan. Kebijakan hanya berarti jika benar-benar dirasakan masyarakat,” ujar Haji Yus Deraman, kalimat yang sekaligus memperlihatkan arah kepemimpinan yang ia tawarkan kepada publik Bangka Barat.

Di tengah tekanan ekonomi, naiknya harga kebutuhan pokok, dan ketidakpastian penghasilan warga, kehadiran Wakil Bupati menjadi narasi tersendiri. Bagi warga Kampung Tanjung, bantuan ini bukan sekadar soal nilai. Ia adalah pengakuan kebijakan bahwa mereka masih dihitung, masih dilihat, dan masih diingat dalam peta kekuasaan daerah.

Di sebuah rumah kayu bercat hijau yang mulai pudar, seorang lansia perempuan menerima paket sembako dengan tangan bergetar. Ia tidak berbicara. Ia hanya mengangguk. Diamnya berbicara lebih keras dari pidato mana pun. Di titik inilah, kebijakan menemukan wajah manusianya dan Yus Derahman menemukan panggung kepemimpinan yang sesungguhnya.

Momen-momen seperti ini tidak lahir secara kebetulan. Ia adalah bagian dari politik kedekatan, strategi kepemimpinan yang sadar bahwa legitimasi tidak cukup dibangun dari atas, tetapi harus tumbuh dari pengalaman langsung warga.

Ketua LPM Kampung Tanjung, Wawan, menegaskan bahwa kegiatan ini lahir dari kesadaran kolektif, namun menemukan kekuatannya ketika didukung langsung oleh pimpinan daerah.

“Kami ingin LPM hadir sebagai tetangga bagi warga. Bantuan ini mungkin kecil, tapi kami ingin dapur warga tetap mengepul,” kata Wawan.

Ia menambahkan, kehadiran Wakil Bupati memberi energi moral dan legitimasi politik bagi kerja-kerja sosial di tingkat kampung.

“Ketika pemimpin daerah turun langsung, warga merasa diperhatikan. Ini bukan hanya bantuan, tapi penguatan kepercayaan,” tambahnya.

Di sinilah Yus Derahman memposisikan diri sebagai figur pemersatu menghubungkan kekuasaan formal dengan kerja sosial akar rumput, membangun koalisi sunyi yang efektif dan sulit ditandingi oleh retorika kosong.

Dokumentasi kegiatan memperlihatkan narasi yang tidak membutuhkan baliho,  tangan pejabat dan warga saling menggenggam, senyum yang tertahan, mata yang berkaca-kaca. Inilah kepemimpinan paling halus dan paling kuat tanpa spanduk, tanpa janji, tetapi melekat dalam ingatan warga.

Secara konseptual, pendekatan ini sejalan dengan prinsip good governance berbasis partisipasi, sebagaimana ditegaskan dalam Permendagri Nomor 18 Tahun 2018, yang menempatkan LPM sebagai mitra strategis pemerintah. Kehadiran Yus Derahman memperlihatkan bagaimana regulasi diterjemahkan menjadi tindakan yang bisa dirasakan langsung.

Sementara Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa menegaskan bahwa pembangunan harus berangkat dari kebutuhan warga. Apa yang terjadi di Kampung Tanjung menjadi contoh bagaimana hukum, kebijakan dan citra kepemimpinan bertemu dalam satu peristiwa sederhana namun penuh makna.

Langkah Yus Derahman bersama LPM Kampung Tanjung memperlihatkan wajah lain dari kekuasaan daerah bahwa kepemimpinan yang sadar simbol, sadar citra dan sadar publik. Di Kampung Tanjung, sembako menjelma menjadi medium komunikasi kebijaksanaan. Yus Derahman, lewat kehadirannya, sedang menanamkan pesan jangka panjang kepada warga Bangka Barat.

pemimpin yang layak dipercaya adalah pemimpin yang berani turun ke dapur rakyatnya.

Bukan tidak mungkin, dari lorong-lorong sempit Kampung Tanjung inilah, citra kepemimpinan itu sedang dirawat pelan, sunyi, tetapi mengendap kuat di ingatan publik.

Data singkat penyaluran bantuan:
Wilayah: RW 01, RW 02, RW 04, RW 07

Sasaran: Warga kurang mampu dan lansia

Jumlah Bantuan: 120 paket sembako

Pelaksana: LPM Kampung Tanjung

Poros Kepemimpinan: Wakil Bupati Bangka Barat, Haji Yus DeraH.Yus Deraman Menunjukkan Wajah Kebijaksanaan Wakil Bupati yang Hadir Kampung Tanjung Mentok

Muntok, Bangka Barat — Kepemimpinan tidak selalu lahir dari ruang rapat, grafik anggaran, atau pidato panjang yang bergema di aula pemerintahan. Di Bangka Barat, kepemimpinan itu memilih lahir dari lorong-lorong sempit Kampung Tanjung tempat dapur warga menjadi penanda paling jujur tentang hadir atau tidaknya pemimpin. Senin (26/1/2026), Haji Yus Deraman, Wakil Bupati Bangka Barat, menempatkan dirinya di ruang itu: turun langsung, menyapa dan menyerahkan 120 paket sembako kepada warga kurang mampu dan lansia di RW 01, RW 02, RW 04 dan RW 07, bersama Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kampung Tanjung.

Bantuan itu bukan sekadar beras, gula, dan minyak goreng. Ia adalah bahasa kebijakan cara seorang pemimpin berbicara kepada rakyatnya tanpa perlu slogan. Dalam balutan plastik merah yang berpindah tangan, Yus Deraman mengirimkan pesan yang tegas namun sunyi bahwa kekuasaan yang bermakna adalah kekuasaan yang hadir secara nyata.

Yus Deraman tidak berdiri di atas panggung. Ia berdiri sejajar dengan warga. Menunduk. Menyalami. Menatap mata mereka yang selama ini hidup dalam sunyi kebijakan. Gestur itu sederhana, tetapi sarat makna simbolik sebuah citra kepemimpinan yang sengaja dibangun tidak berjarak, tidak elitis dan tidak merasa lebih tinggi dari rakyatnya.

“Gerakan LPM Kampung Tanjung seperti ini harus terus didukung. Pemerintah daerah tidak boleh bekerja dari kejauhan. Kebijakan hanya berarti jika benar-benar dirasakan masyarakat,” ujar Haji Yus Deraman, kalimat yang sekaligus memperlihatkan arah kepemimpinan yang ia tawarkan kepada publik Bangka Barat.

Di tengah tekanan ekonomi, naiknya harga kebutuhan pokok, dan ketidakpastian penghasilan warga, kehadiran Wakil Bupati menjadi narasi tersendiri. Bagi warga Kampung Tanjung, bantuan ini bukan sekadar soal nilai. Ia adalah pengakuan kebijakan bahwa mereka masih dihitung, masih dilihat, dan masih diingat dalam peta kekuasaan daerah.

Di sebuah rumah kayu bercat hijau yang mulai pudar, seorang lansia perempuan menerima paket sembako dengan tangan bergetar. Ia tidak berbicara. Ia hanya mengangguk. Diamnya berbicara lebih keras dari pidato mana pun. Di titik inilah, kebijakan menemukan wajah manusianya dan Yus Derahman menemukan panggung kepemimpinan yang sesungguhnya.

Momen-momen seperti ini tidak lahir secara kebetulan. Ia adalah bagian dari politik kedekatan, strategi kepemimpinan yang sadar bahwa legitimasi tidak cukup dibangun dari atas, tetapi harus tumbuh dari pengalaman langsung warga.

Ketua LPM Kampung Tanjung, Wawan, menegaskan bahwa kegiatan ini lahir dari kesadaran kolektif, namun menemukan kekuatannya ketika didukung langsung oleh pimpinan daerah.

“Kami ingin LPM hadir sebagai tetangga bagi warga. Bantuan ini mungkin kecil, tapi kami ingin dapur warga tetap mengepul,” kata Wawan.

Ia menambahkan, kehadiran Wakil Bupati memberi energi moral dan legitimasi politik bagi kerja-kerja sosial di tingkat kampung.

“Ketika pemimpin daerah turun langsung, warga merasa diperhatikan. Ini bukan hanya bantuan, tapi penguatan kepercayaan,” tambahnya.

Di sinilah Yus Derahman memposisikan diri sebagai figur pemersatu menghubungkan kekuasaan formal dengan kerja sosial akar rumput, membangun koalisi sunyi yang efektif dan sulit ditandingi oleh retorika kosong.

Dokumentasi kegiatan memperlihatkan narasi yang tidak membutuhkan baliho,  tangan pejabat dan warga saling menggenggam, senyum yang tertahan, mata yang berkaca-kaca. Inilah kepemimpinan paling halus dan paling kuat tanpa spanduk, tanpa janji, tetapi melekat dalam ingatan warga.

Secara konseptual, pendekatan ini sejalan dengan prinsip good governance berbasis partisipasi, sebagaimana ditegaskan dalam Permendagri Nomor 18 Tahun 2018, yang menempatkan LPM sebagai mitra strategis pemerintah. Kehadiran Yus Derahman memperlihatkan bagaimana regulasi diterjemahkan menjadi tindakan yang bisa dirasakan langsung.

Sementara Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa menegaskan bahwa pembangunan harus berangkat dari kebutuhan warga. Apa yang terjadi di Kampung Tanjung menjadi contoh bagaimana hukum, kebijakan dan citra kepemimpinan bertemu dalam satu peristiwa sederhana namun penuh makna.

Langkah Yus Derahman bersama LPM Kampung Tanjung memperlihatkan wajah lain dari kekuasaan daerah bahwa kepemimpinan yang sadar simbol, sadar citra dan sadar publik. Di Kampung Tanjung, sembako menjelma menjadi medium komunikasi kebijaksanaan. Yus Derahman, lewat kehadirannya, sedang menanamkan pesan jangka panjang kepada warga Bangka Barat.

pemimpin yang layak dipercaya adalah pemimpin yang berani turun ke dapur rakyatnya.

Bukan tidak mungkin, dari lorong-lorong sempit Kampung Tanjung inilah, citra kepemimpinan itu sedang dirawat pelan, sunyi, tetapi mengendap kuat di ingatan publik.

Data singkat penyaluran bantuan:
Wilayah: RW 01, RW 02, RW 04, RW 07

Sasaran: Warga kurang mampu dan lansia

Jumlah Bantuan: 120 paket sembako

Pelaksana: LPM Kampung Tanjung

Poros Kepemimpinan: Wakil Bupati Bangka Barat, Haji Yus Derahman

Didi / Belva KBO babel

Tinggalkan Balasan